Search This Blog

Showing posts with label Belong to ALLAH. Show all posts
Showing posts with label Belong to ALLAH. Show all posts

Tuesday, February 4, 2014

Aku mencintaimu, lelaki terhebatku #DFS


4 Februari 2014, 12.52 pm –13.35 pm

Assalamualaikum wr wb.

Selamat siang. Disela-sela waktu istirahat di perpustakaan PE Pertamina RU VI Balongan, aku menyempatkan untuk menulis. Aku duduk di depan laptopku dan di samping kanan kiri, rekan dari UPN Jogjakarta dan UNILA sedang sibuk dengan tugas khusus masing-masing. 

Pikiranku melayang-layang, jantungku berdetak lebih cepat dari yang aku harapkan. Aku teringat semua kenangan bersamanya.
Teruntuk , Abi yang paling aku banggakan. Dari anak perempuanmu pertama, anak yang kau sayangi sepanjang hidupmu.


 Foto oleh : DFS 2012

 Abi, apa kabar sekarang? Abi sudah shalatkah dan makan siang? Apa abi masih saja berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain? Cuaca disana panaskah bi? Semoga abi selalu dalam lindungan Allah SWT, keselamatan dan keberkahan setiap detiknya.

 Abi laki-laki sangat hebat yang pernah tercipta di dunia ini. Abi paham betul bagaimana menghadapi anak pertamanya ini. Abi tau bagaimana menjaga, menyayangi, mencintai, memberikan apa yang anakmu ini mau. 

 Abi, baru menulis sedikit rangkaian kata, air mata sudah mulai bercucuran. Abi, maafkan anakmu ini. Aku tau terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan. aku telah menyakiti dan mengecewakanmu. Meski aku tau, abi tidak pernah menganggap itu sebuah kesakitan. Abi selalu memaafkan bahkan tidak pernah menganggap itu sebuah permasalahan. Abi, engkau begitu tegar. Aku lihat kedua bola matamu tetap menatap kami dengan tegas. Senyumanmu selalu menghantui setiap detik kebersamaan kita.

 Abi, aku memang anak pertama. Seharusnya aku adalah anak yang paling tegar dan mandiri saat bersamamu. Seharusnya aku tidak bermanja-manja, selalu mengutarakan apa yang aku mau dan inginkan, selalu membuatmu menunggu, membuatmu khawatir serta gundah. Aku terus menerus merepotkanmu. 

 Abi, umurmu memang sudah setengah abad lebih. Tapi wajahmu tetap awet muda, semangatmu seperti anak muda, cara berpikirmu juga. Aku salut denganmu abi. Aku merasa abi adalah lelaki paling sempurna yang diciptakan untuk membimbing aku.

 Abi, engkau setiap hari meneleponku. Menanyakan kabarku, dimana aku berada dan sudah selesaikan tugasku, kuliahku, serta kegiatan lainnya. Jadwal itu sudah engkau atur serapi mungkin. Saat subuh atau sebelum subuh, handphoneku selalu berbunyi, berdering. Jika hp itu mati atau sedang di cas, engkau berusaha menghubungi ke nomor sahabat atau rekan yang lainnya. Dalam waktu tersebut, engkau terus meneleponku hingga suaraku terdengar olehmu. Berpuluh-puluh missed call dan SMS masuk ke daftar telpon serta pesan.

 Abi, saat aku sedang ada kegiatan dan pergi ke suatu tempat. Kau terus memantauku via hp. Engkau menanyakanku kapan pulang, engkau menjemputku. Sering sekali aku membuatmu menunggu hingga berjam-jam lamanya. Aku merasa berdosa, aku merasa benar-benar telah membebankan hidupku padamu, abi.

 Abi, ketika aku bercerita, engkau mendengarkan ceritaku dengan antusias. Ada cerita yang aneh dan menurutmu tidak benar, engkau langsung menasehatiku. Disela-sela ceritaku, engkau memberikan masukan dan ide yang sangat luar biasa. Pengalamanmu sangat membuatku berdecak kagum. Perjalanan hidupmu penuh dengan lika-liku. Darimu aku banyak belajar banyak tentang kehidupan ini.

 Abi, engkau memiliki kepintaran yang aku sangat suka itu. Saat masih menjadi seorang bujang, engkau telah mengelilingi beberapa kota dan lintas pulau. Engkau menikmati setiap moment di perjalananmu. Mendengarnya saja, aku merasa berada di tempat yang engkau kunjungi dahulu. Engkau pernah mengikuti beberapa kali tes SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru – Perguruan Tinggi) di UI (Universitas Indonesia). 3 tahun mencoba berulang kali, tapi takdir Tuhan berkehendak lain. Tapi, semangatmu untuk tidak menyerah pada satu tempat mengantarkanmu untuk ke Duta Besar Russia di Jakarta. Engkau belajar Bahasa asing selain Bahasa inggris. Engkau belajar Bahasa Russia, Jerman dan beberapa Bahasa lainnya. Hingga saat ini, engkau masih saja ingat setiap kata dan percakapan dari Bahasa asing itu. Ketika aku berbicara Bahasa inggris dan salah, engkau mengatakan bahwa Bahasa inggrisku jelek. Bukankah itu kelebihan yang tidak semua orang miliki secara ortodidak? Engkau benar-benar mengispirasi,bi.

 Abi, aku masih ingat semua kenangan kita. Sejak kecil aku sudah ikut engkau berkeliling Jakarta dan Jawa Barat. Ketika engkau masih menjadi karyawan salah satu perusahaan besar tahun 1999-2000-an, aku sudah engkau ajak berkeliling melihat tempat-tempat lain. Saat larut malam tiba, aku merasa sangat lapar, engkau mengajakku makan di warung kopi. Engkau memesankan aku roti bakar susu, yang hingga saat ini aku masih merasakan kenikmatannya. Tahun 2001, ketika Gusdur dilengserkan dari kursi kepresidenan, keadaan Jakarta sangat rusuh. Hiruk pikuk partai berwarna merah banteng bertebaran di seluruh penjuru Jakarta dan kota di Indonesia lainnya. Kita seakan tidak mempedulikan semua kekacauan itu. Kita menuju foto studio dan berfoto di kursi yang berbeda. Kursiku kecil dan engkau duduk di kursi yang lebih tinggi dariku. Satu lagi yang membuatku terkesima yaitu pakaian yang kita gunakan. Kita sama-sama memakai kaos kutang putih dan celana pendek. 

 Abi, aku ingat betul, ketika tahun ajaran baru sekolah. Aku menginginkan buku tulis, perlengkapan alat tulis, seragam dan sepatu serta kaos kaki. Saat itu engkau mengajakku ke kantormu. Engkau membawa uang Rp 200.000 (saat itu aku kelas 2 SD). Engkau mengajakku ke Jatinegara dan Kota untuk membeli semua perlengkapan itu. Aku sangat bahagia abi, sangat bahagia.

 Abi, perjalanan ke puncak bersamamu dan rekan-rekan kantor, membuat aku semakin menikmati setiap ornamen ciptaan ALLAH SWT. Aku merasa berarti di sampingmu abi. 

  Abi, tahun 1998 adalah peralihan dari zaman orde baru menuju reformasi. Jakarta dan Indonesia seperti porak-porandah. Malam kejadian itu engkau pulang larut malam, hingga aku tertidur pulas ketika menunggumu di rumah. Ternyata engkau ditahan karena orang-orang mengira engkau keturunan bangsa China. Esok paginya, engkau seperti biasa mengantarkanku sekolah ke Tangerang (TK.Al-Faruqiyah) dari Kali Deres. Menggunakan motor yang engkau kendarai, tiba-tiba kita diberhentikan oleh banyak orang. Mereka kembali mengira kita adalah keluarga berketurunan bangsa China. Dengan spontan, aku menjerit kepada orang-orang itu, bahwa kami bukan orang China tapi orang Indonesia. Engkau terkejut melihat tingkah laku anakmu, yang masih sangat kecil tapi sudah paham bagaiman harus menjelaskan sesuatu.

 
Abi, engkau begitu sabar. Ketika lulus dari TK umur 5 tahun, aku ingin melanjutkan ke SD dekat rumah di Kali Deres. Karena umurku belum cukup untuk masuk SD, aku tidak diperbolehkan untuk masuk ke SD tersebut. Hal ini juga yang terjadi saat aku melamar masuk TK di Jakarta, semua tidak ada yang menerimaku karena masalah umur. Aku menunjukkan kemampuanku. Aku lolos seleksi masuk SD unggulan, tapi aku harus masuk kelas siang. Padahal aku ingin sekali masuk kelas pagi. Engkau mengusahakan dan berbicara kepada kepala sekolah. Aku diikutkan kembali seleksi. Aku harus menghitung, menulis dan membaca di papan tulis kelas 1. ALHAMDULILLAH, AKU BISA MELAKUKAN ITU SEMUA! Engkau kembali tersenyum, melihat anakmu berkembang secara pesat. Ini buah kesabaranmu abi.
Abi, setelah SMP di asrama Jati Bening Bekasi, aku melanjutkan SMA di Lubuk Linggau Sumatera Selatan. Aku merantau kembali ke tempat dimana engkau pernah tinggal di kota tersebut. Aku tidak menyangka engkau menetap untuk beberapa waktu di dekat kota Lubuk Linggau, Palembang. Aku bingung kenapa engkau berkeliling dan tidak menetap di Bekasi. Setelah lulus dari SMA, aku mengikuti banyak tes di perguruan ikatan dinas di Indonesia. Aku melamar ke Universitas Sriwijaya Jurusan Teknik Kimia, aku ikut seleksi IPDN, STAN dan STIS. Aku lulus di UNSRI dan IPDN. Saat ingin melanjutkan ke tahap selanjutnya, aku merasa tidak sanggup. Aku berpikir untuk mengundurkan diri. Aku ingin bertahan di Teknik Kimia. Umi dan Bude menyayangkan keputusanku, dan mengharapkanku di perguruan ikatan dinas itu. Gamang luar biasa. Tapi, engkau datang dengan kenyamananmu. Aku menyemangatiku, engkau mendukungku. Engkau memberikan motivasi yang luar dari dugaannku. Disaat banyak orang tidak menyukai keputusanku, engkau dating dengan segala cahayamu.

“Buat apa bersedih? Kamu bisa membuat pabrik dari Jurusanmu. Kamu bisa bekerja di perusahaan besar. Kalau bisa kamu membangun kilang minyak untuk Indonesia. Kamu bisa membuat dan mengisi ulang tinta-tinta spidol menjadi rupiah. Dari keahlianmu, kamu bisa menciptakan sesuatu. Kalau menjadi PNS, kreativitasmu tidak bisa berkembang secara maksimal. Lanjutkan nak, kamu bisa lakukan itu!”

Kalimat ini yang selalu terngiang dalam hati dan pikiranku. Aku selalu bertahan, karena aku ingin membuat abi percaya bahwa memiliki anak sepertiku adalah anugerah. 


Abi, cerita itu akan aku tulis. Aku ingin mengenang setiap jasa dan pelajaran berharga darimu. Abi, aku sangat mencintaimu. Aku sangat bangga memiliki abi sepertimu.

Abi, aku tak dapat membayangkan ketika aku tak bisa di sampingmu.

Abi, sehari saja engkau tidak meneleponku, aku merasa ada yang hilang dalam sekejap. Aku tidak tau harus cerita dengan siapa jika aku sedang mendapatkan kebahagiaan dan rezeki yang besar dari Allah.

Abi, engkaulah orang pertama yang tau apa saja berita tentangku.

Abi, di setiap ceritaku, aku menceritakanmu dengan penuh semangat. Engkau menginspirasi.

Abi, aku selalu berdoa, engkau hidup dengan keberkahan dan keridhoan-Nya. Aku mau menghapal Al-Qur’an, karena mengharap Ridho-Nya dan aku ingin memakaikan mahkota yang sangat indah di Surga nanti.

Abi, setiap kali aku memberikanmu sesuatu, engkau selalu berkata : “Tidak usah nak, simpan saja uang itu untuk kakak”. Hatiku tersentuh, bagaimana bisa aku membalas semua kebaikanmu selama ini? Selama aku hidup di dunia? Selama aku menjadi anakmu? Bagaimana bisa? Tolong jawab abi, aku ingin membuatmu benar-benar tidak menyesal memiliki anak sepertiku. Aku tidak pernah menyesal menjadi anakmu.

Abi, semua sifat dan indentitas yang ada didirimu turun kepadaku. Aku anakmu yang pertama, anak perempuanmu, aku putri kecilmu yang dahulu sekarang sudah terus beranjak dewasa. Kita mempunyai mata yang sama, mata sipit darimu abi. Mata yang membuatku sangat beruntung untuk memilikinya. Hidung, telinga bahkan masih banyak sekali semua jejakmu yang engkau turunkan untukku. Hobi berkelana yang engkau lakukan sejak kecil, telah membuatku semakin mencintai setiap perjalanan. Semuanya, aku merasa kesamaan itu darimu abi.

Abi, anak perempuanmu ini sedang berjuang untuk memberikan lebih banyak senyuman untukmu.

Abi, semoga surga selalu menantimu. ALLAH mengampuni dosa kita semua.

Abi, aku benar-benar jatuh cinta terhadapmu. Lelaki kuat nan gagah yang telah banyak mengajarkanku kehidupan.

Abi, anakmu ini sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin membuatmu BANGGA karena AKU. Sekarang, biarlah aku memenuhi semua janjiku padamu, LELAKI TERHEBAT DALAM HIDUPKU. AKU MENCINTAIMU! ABI!

Abi Dini Fuadillah Sofyan, Sofyan Nurdin.

Monday, February 3, 2014

Kepingan Puzzle #DFS



3 Februari 2014 ( 12.45 – 1.26 p.m)
Teruntuk kekasihku kelak yang akan mendampingi hidupku dunia akhirat.
Assalamualaikum wr wb.

Tulisan ini akan menjadi perwakilan dari apa yang sedang aku rasakan belakangan ini. Sudah lama aku menunggu seseorang yang akan menjadikanku kekasihnya dunia akhirat dalam ikatan suci pernikahan. Memang terlalu dini untuk membicarakan ini. Tapi ini adalah sebuah keharusan yang harus terjadi, demi memenuhi setengah iman yang ada di hati. Aku tau, bagi seorang mahasiswa seperti aku membicarakan hal seperti ini adalah hal yang tak perlu dipikirkan. Terlebih lagi bagi orang tua, keluarga dan beberapa rekanku. Mereka berprinsip, bahwa aku harus menyelesaikan kuliahku terlebih dahulu. Lalu, bekerja pada satu perusahaan. Mendapatkan gaji, membahagiakan orang tua dan adik-adik. Lalu baru setelah itu aku diperbolehkan menikah. Agaknya urutan cerita ini berbeda dengan apa yang aku pikirkan.

Aku seperti memiliki keyakinan lain. Aku memiliki keinginan untuk menikah muda. Tujuanku satu, aku ingin mengurangi semua dosa yang bisa saja terjadi setiap waktunya. Lalu, setiap orang mengkhawatirkan rezeki yang ada. Bukankah semuanya yang mengatur adalah ALLAH? Kita hanya perlu untuk berusaha dan berikhtiar dengan semua yang ada di dunia ini. Jodoh, kematian, kehidupan juga semua kuasa-Nya. Apa yang membuatmu khawatir?

Dalam doaku, aku memanjatkan sesuatu tentangmu. Aku tidak tahu siapa kamu. Aku tidak mengerti bagaimana nanti kita dipertemukan. Aku tak paham mengapa setiap informasi mengenaimu tersimpan rapi oleh sang pencipta.
Dalam sujudku, aku merasakan kuasa-Nya tentangmu. Kamu yang memang tidak pernah aku duga siapa dan dimana kita akan bertemu.
Seusai shalat, aku bercerita dan mencurahkan semua tentang kamu. Aku memantapkan hati, jiwa dan raga. Aku bertekad untuk terus memperbaiki diri. Aku ingin di waktu yang tepat, semuanya telah siap.

Kamu,
Sebenarnya siapa gerangan yang akan datang menghadap orang tuaku?
Sekarang kamu sedang apa dan dimana?
Apakah dirimu terus mendekatkan diri kepada Allah SWT?
Kamu sedang memperbaiki diri, meningkatkan kehidupanmu lebih baik kearah dunia dan akhirat, kan?
Kamu sedang menyusun rencana untuk menjadikan kita bersatu dalam bahtera rumah tangga?
Kamu sedang berpikir keras, bagaimana meyakinkan orang tuaku untuk percaya dan merelakan anak pertamanya menjadi milik lelaki asing?
Aku percaya itu, kamu sedang baik-baik saja. Kamu menyebut nama-Nya di setiap waktumu.
Kamu sedang memohon untuk memantapkan hatimu.
Aku disini, masih setia menunggu. Aku sedang berusaha menuntaskan strata satu (S1). Aku juga sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pendampingmu kelak. Kita bersatu bukan untuk tujuan hidup yang semu ini, tapi tujuan yang abadi di akhirat.
Tuhan, dalam doaku, pikiranku dan langkahku, aku selalu memikirkan “Dia” yang akan menemaniku di sisa waktu yang kau berikan.

Dia adalah kamu imamku.
Imamku, jaga dirimu baik-baik, aku ingin engkau terus memeluk Ridho Tuhan kita.
Imamku, ketika aku melakukan kesalahan dan mau melakukan hal buruk, secepat mungkin aku ingin bertaubat. Aku tidak ingin kita tidak dipertemukan, karena satu kesalahanku lalai terhadap tuntunan-Nya.
Imamku, jika aku tau siapa engkau. Mungkin aku tak perlu khawatir dan memikirkan apa yang terjadi kelak. Tapi, aku percaya ini sebagai sebuah kejutan yang sangat membahagiakan kelak.
Imamku, aku hanya ingin melakukan semua hal yang baik bersama. Aku ingin setiap langkhaku ada yang menjaga dan menemani. Aku ingin ada yang membangunkanku untuk shalat tahajud dan shalat 5 waktu, shalat dhuha dll. Aku ingin mengaji dan menghapal Al-Qur’an bersamamu dan anak-anak kita kelak.
Imamku, aku mau membahagiakan orang tuaku, orang tuamu dan kamu tentunya pangeran hidupku.
Imamku, apa yang perlu kau takuti dengan kehidupan sementara ini? Bukankah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang? Lalu, mengapa engkau masih ragu untuk menjemput setengah imanmu bersamaku? Apa yang engkau pikirkan? Sekolahku yang belum usai? Takut tidak bisa membahagiakn orang tuamu?. Mengapa kau tidak pikirkan begini saja, kita yang akan bahagiakan mereka. Ya kita berdua. Kita yang akan menebar manfaat bersama. Menebar kebaikan. Menebar kebahagiaan.
Imamku, aku iri dengan orang yang memprioritaskan akhirat sebagai tujuan hidupnya. Aku tidak iri dengan orang yang bermesraan dengan pacarnya, bahagia bersama, meski aku dahulu menjadi wanita yang sangat jahiliyah. Tapi aku ingin berubah, demi bersanding denganmu. Aku tidak iri dengan orang yang mengejar banyak kesuksesan untuk tujuan dunia.
Imamku, aku bangga ketika dengan keterbatasanmu dan kekuranganmu datang menghadap orang tuaku. Aku selalu memberikan apresiasi tinggi kepada lelaki seperti itu. Bukan yang hanya mengobral janji.
Imamku, aku memang terlihat aneh dan menggebu-gebu. Tapi ini adalah keyakinan, ini prinsip. Aku memiliki itu sejak lama. Aku menjaga setiap prinsip yang memang itu benar dan tidak merugikan orang lain.
Imamku, aku memiliki keyakinan yang kuat, bahwa dengan kita menjalin hubungan yang diridhio ALLAH tidak akan membuat hidup kita semakin memburuk. Jika memang kenyataannya tidak baik, itu mungkin kita terlalu lalai dengan perintah-Nya. Atau ini cobaan untuk kita untuk lebih dekat bersama-Nya.
Imamku, jangan takut. Kita bisa hadapi bersama. Kita kuat mengarungi kehidupan yang sangat sementara ini.
Imamku, aku selalu membayangkan, hidup kita akan jauh lebih baik. Kamu yang mencari nafkah untuk keluarga kita, aku akan berusaha menjadi ibu rumah tangga yang bisa menghasilkan sesuatu kebermanfaatan. Aku tak perlu ragu untuk meyakini setiap langkahku bersamamu.
Imamku, hidupku belum sempurna. Hidupku belum ada apa-apanya jika engkau belum menujukkan dirimu dihadapan orang tuaku. Puzzle yang masih tersimpan rapi belum juga rampung. Belum terselesaikan oleh cerita tentang kita.
Imamku, aku butuh puing-puing puzzle itu tersusun sempurna di tempatnya. Rona kebahagiaan akan terlihat jelas di atas tumpukkan kepingan puzzle tersebut.
Imamku, meski secara logika semua terasa tidak mungkin dalam waktu dekat ini. Tapi aku selalu meyakini semua rencana ALLAH SWT. Aku tak penah ragu dengan apapun yang akan terjadi. Meski orang tua dan adik-adikku belum menyetujui dengan wacana pernikahan yang akan terjadi, meski budeku belum menikah, kuliahku belum selesai. Hati kecilku selalu berkata, pasti ada jalan untuk membuat segalanya tampak mudah dan tak terduga.
Imamku, tetesan air mata tak dapat aku bendung ketika aku menulis tentangmu. Aku selalu percaya mukjizat itu selalu ada.
Imamku, engkaulah penyemangatku untuk terus berbuat baik. Aku selalu menunggumu, meskipun aku tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya kamu.
Imamku, tolong lihat apa saja keajaiban yang Allah turunkan kepada kita umat manusia agar kita melaksanakan perintah-Nya?
Imamku, kita saling menunggu waktu yang sangat tepat. Tapi semua keputusan awal ada di engkau calon imamku. Hasil akhir yang akan menentukan kita bersama atau tidak itu dari Allah SWT lewat aku dan keluargaku.
Imamku, buat apa kamu sukses dengan jabatanmu, kekayaanmu, dll hanya seorang diri?. Engkau tidak mau ada yang menemani kesuksesanmu?
Imamku, engkau tidak mau ada yang mendengarkan seluruh ceritamu, hari dimana kamu bekerja? Engkau tidak ingin ada yang menemanimu di setiap acara yang akan dihadiri? Engkau tidak ingin ada yang mengenggam tanganmu dengan sangat erat ketika kamu merasa ketakutan?
Imamku, mari kita lakukan bersama. Mari kita rengkuh Ridho-Nya untuk kebahagiaan dunia akhirat.
Imamku, aku akan terus menunggumu dan bersabar di dalam doaku hingga hembusan nafas ini terhenti. Hingga Allah mempertemukan kita dan menyatukan kita kembali di kehidupan selanjutnya.
Imamku, suatu saat nanti kita akan dipertemukan dan melakukan segalanya berdua. Engkau yang akan selalu aku banggakan. Imamku, suamiku dan ayah dari anak-anak kita kelak.
Dalam doa dan sujudku, aku tau kita sama-sama menunggu waktu yang tepat untuk kita bersama. Allah Maha mengetahui segala sesuatu-Nya. Rencana-Nya selalu menjadi yang paling luar biasa.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Q.S. Ar-Rum [30] : 21)

“Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantaramu, juga orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas pemberian-Nya, Maha Mengetahui” (Q.S. An-Nur [24] : 32)

“Salah satu golongan yang berhak ditolong Allah SWT, yaitu orang yang menikah karena ingin menjauhkan dirinya dari yang haram” (H.R.Tirmidzi)

“Wanita itu dikawini karena 4 hal : karena hartanya, karena kebangsawanannya, karena kecantikannya dank arena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, semoga beruntung usahamu” (H.R. Bukhari dan Muslim)


---------------------------------------------Dini Fuadillah Sofyan-----------------------------------


 Foto oleh : DFS (Padang, Januari 2013)

Friday, November 9, 2012

The World is not ANYTHING

Ya ALLAH, dengan Al-Qur'an, karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada hamba. Jadikan Al-Qur'an sebagai iman, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi hamba.

Ya ALLAH, ingatkan hamba bila ada ayat yang hamba lupa mengingatnya. Ajarkan pada hamba, ayat yang hamba bodoh memahaminya. Karuniakan pada hamba kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Al-Qur'an bagi hamba sebagai hujjah, ya Rabbal'Alamin.

Ya ALLAH, karuniakan kebaikan bagi hamba dalam beragama, yang merupakan kunci kehormatan bagi hamba. Karuniakan kebaikan kepada hamba di dunia, yang merupakan tempat hamba menjalani hidup. Karuniakan kebaikan akhirat bagi hamba, yang merupakan tempat hamba kembali. Jadikan kehidupan hamba senantiasa lebih baik. Jadikan kematian sebagai kebebasan hamba dari segala keburukan.

Ya ALLAH, jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikan amal terbaik hamba di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu dengan-Mu.

Ya ALLAH, hamba memohon kepadamu kehidupan yang jembar, kematian yang normal, dan tempat kembali yang tidak menyedihkan dan terhindar dari prahara.

Ya ALLAH, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-mu, dan anugerahkanlah ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke surga-Mu, anugerahkanlah pula keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah di dunia ini. 

Ya ALLAH, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran, penglihatan, dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami. Jangan Engkau jadikan berkuasa atas kami, orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya ALLAH, jangan Engkau tinggalkan dosa, melainkan Engkau ampuni. Tidak ada kegalauan kecuali Engkau berikan jalan keluar, tidak ada hutang kecuali Engkau penuhi, dan tidak ada satu kebutuhan dunia dan akhirat kecuali Engkau penuhi, wahai Tuhan Semesta alam.

Ya Rabb kami, berikan kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, serta jagalah kami dari api neraka.

Semoga Shalawat dan salam senantiasa terlimpah curah kepada Nabi Muhammad, keluarga, serta para sahabat terpilih - (Doa Khatmil Qur'an) 



-Asiyah Alfarisi Sofyan-